Pengertian Dekarbonisasi – Dekarbonisasi juga dikatakan sebagai salah satu kunci pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK), yang diharapkan dapat mengurangi perubahan iklim. Namun nyatanya, upaya ini harus dilakukan secara nyata yang melibatkan semua pihak, mulai dari pemerintah, pelaku industri dan tentunya masyarakat umum.

Meski jalur ini tidak mudah karena membutuhkan banyak investasi dan waktu yang relatif singkat, namun jika diinginkan, pemerintah Indonesia dapat melakukannya secara realistis.

Secara umum, dekarbonisasi adalah proses pengurangan atau penghilangan semua emisi karbon, dengan tujuan mencapai titik emisi terendah. Pada dasarnya dekarbonisasi adalah proses penggantian bahan bakar fosil dengan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan (green fuel).

Dekarbonisasi karbon dapat dilakukan dengan banyak cara. Seperti penggunaan energi terbarukan (EBT) untuk menggantikan energi fosil, atau penggunaan energi matahari, energi angin dan penggunaan bahan bakar alternatif (biobased) untuk listrik.

Dekarbonisasi juga akan ditransformasikan menjadi ekonomi hijau, dengan harapan tidak hanya berdampak pada ekosistem alam tetapi juga membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Secara umum, konsep dekarbonisasi telah ada selama Perjanjian Paris tahun 2015. Terdapat kesepakatan oleh puluhan negara untuk membatasi pemanasan global hingga di bawah 2 derajat Celcius, atau hingga batas maksimum 1,5 derajat Celcius. Semua ini harus terjadi dengan cepat, yaitu untuk mencapai netralitas CO2 (2030) dan total emisi bersih (2050).

Semua upaya tersebut harus dibarengi dengan roadmap transisi energi yang terintegrasi, sehingga semua kelompok dapat tampil maksimal. Lantas, langkah atau upaya apa yang tepat untuk transisi energi tersebut?

Strategi Transisi Energi

Menanggapi akhir, strategi harus berupa kalimat tentang transisi energi. Dalam diskusi online “Strategi transisi energi dan dekarbonisasi di Indonesia” akhir pekan lalu (18/12/2021), Herman Darnel Ibrahim, anggota Dewan Energi Nasional (DEN) menemukan bahwa strategi tersebut dapat melalui prinsip ekonomi hijau. . dan daya tahan. ).

Selain mengurangi risiko kerusakan lingkungan, konsep ini berdampak pada pemerataan sosial masyarakat.

Secara umum terdapat skenario yang membantu menjaga ketahanan energi nasional melalui koridor ketahanan energi, yaitu ketersediaan, aksesibilitas, keterjangkauan dan akseptabilitas.

Selain itu, faktor-faktor bahwa proses dan keberhasilan transisi energi menekankan pada potensi sumber energi yang kita miliki, teknologi yang kita miliki dan kendalikan, keadaan pasokan energi dan pencapaian bauran energi – sekarang, dan tentu kondisi ekonomi serta daya beli masyarakat.

Categories: Blog

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hubungi Kami?