Bisnis properti di Indonesia sangat populer karena dianggap bisa memberikan kepastian nilai keuntungan kepada investornya. Belum lagi peluang kenaikan harga lahannya kalau properti itu sudah jadi. Para pengembang bahkan bisa memperoleh keuntungan dua kali lipat bahkan lebih. Namun seperti bisnis lainnysa, bisnis properti di Indonesia juga memiliki kendala. Berikut selengkapnya.

Peluang Bisnis Properti di Indonesia

Indonesia, khususnya Jakarta dan sekitarnya, sudah terkenal dijadikan sebagai tempat investasi di bidang properti. Salah satu penyebabnya adalah permintaan hunian yang sangat besar di kota-kota tersebut. Selain itu, melambatnya perekonomian India dan Cina menjadi penyebab lain yang menarik investor properti datang ke Indonesia.

Dengan  perekonomian dalam negeri yang pertumbuhannya konsisten sebanyak 5-6% setiap tahun, investor asing jadi tertarik untuk berbisnis properti di Indonesia. Karena hal tersebut, ada beberapa perusahaan pengembang properti di dunia yang tertarik dengan Indonesia. Perusahaan tersebut ada yang dari Hong Kong, Australia, dan Selandia Baru.

Bukan hanya investor asing, bisnis properti juga diminati oleh investor lokal. Namun sayangnya, jumlah permintaan hunian itu belum semuanya bisa terpenuhi, sehingga harga properti menjadi tinggi. 

Berdasarkan data statistik, permintaan hunian setiap tahunnya mencapai 700-800 ribu unit, namun yang tersedia hanya 400 ribuan unit. Hal ini tentu saja menjadi peluang untuk Anda yang ingin menekuni bisnis properti di Indonesia

Meningkatnya permintaan pasar akan hunian yang berkualitas dengan harga terjangkau saat ini telah mengispirasi banyak Developer termasuk Green Serpong Paradise membangun sebuah kawasan properti seluas 500 Ha di wilayah Parung Panjang dan dekat dengan banyak fasilitas umum termasuk Stasiun KRL Jabodetabek.

Kendala Bisnis Properti di Indonesia 

Ada peluang, tentu juga ada kendala. Salah satunya adalah penyalahgunaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), padahal keduanya untuk membantu masyarakat memiliki hunian.

Contohnya begini, ada orang yang mengajukan lebih dari 1 KPR atau KPA. Jika 1 kredit belum selesai namun sudah ada pengajuan lagi, maka perputaran uang bisa menjadi terhambat. Kalau Anda ingin mengajukan beberapa KPR atau KPA, pastikan cicilan rumah Anda sebelumnya sudah lunas.

Penyalahgunaan seperti itu sangat memungkinkan terjadinya kasus kredit macet yang membuat pemberi kredit terpaksa melelang properti itu.  Hal ini mengakibatkan laju kenaikan harga properti menjadi lambat dan nilai kreditnya tidak sesuai dengan pergerakan harga properti tahunan.

Kendala lainnya adalah ketidakstabilan kurs rupiah terhadap mata uang asing. Hal tersebut membuat investor properti memilih berjaga-jaga untuk berinvestasi ke Indonesia. Bagaimapun, kurs rupiah ini sangat mempengaruhi harga material bangunan. Jika rupiah melemah, biasanya daya beli masyarakat juga akan turun.

Sebenarnya tidak berbeda dengan bisnis lain, bisnis properti di Indonesia pun pasti akan menemui pasang-surutnya. Setelah membaca ulasan ini, apakah Anda masih tertarik untuk berinvestasi di bidang properti?

Hubungi Marketing Kami untuk melihat Unit yang Tersedia.