Dampak Corona di Sektor Properti – Pandemi virus Corona yang terjadi di Tanah Air telah menyebabkan pukulan di berbagai sektor industri, tak terkecuali sektor properti. Sebelum adanya pandemi Corona, kinerja sektor properti sebenarnya sudah mulai menunjukkan tren yang positif setelah beberapa tahun belakangan ini cenderung stagnan. 

Namun, pandemi virus Corona menyebabkan kinerja sektor properti kembali meredup. Untuk mengantisipasi dampak yang lebih dalam di sektor properti, pemerintah telah memberikan stimulus. 

Presiden Jokowi pada Selasa (24/3/2020) mengumumkan bahwa salah satu stimulus yang diberikan pemerintah adalah menambah kuota rumah subsidi dengan menyiapkan anggaran Rp1,5 triliun.

Penambahan perumahan subsidi ini akan direalisasikan pada April 2020 dengan mengaktifkan kembali program Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM).

Meskipun demikian, pengembang properti menilai sejumlah stimulus itu saja tidak cukup, karena dampak pandemi virus Corona terhadap sektor properti cukup besar. Berikut ini adalah informasi yang dirangkum Bisnis mengenai dampak dari virus Corona terhadap sektor properti di Tanah Air.

dampak corona di sektor properti

Penyaluran KPR Tersendat

Dampak corona di sektor properti  juga mengganggu transaksi  perumahan dan tersendatnya penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR).

Ketua Umum Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Endang Kawidjaja mengungkapkan salah satu faktor yang menyebabkan tersendatnya penyaluran KPR ialah menurunnya pendapatan sejumlah calon debitur sehingga sulit mendapatkan akses pembiayaan dari perbankan. 

Adanya sistem physical distancing dan bekerja dari rumah juga dinilai sangat berpengaruh terhadap permintaan dari konsumen yang kemudian akan berpengaruh pada penyaluran KPR.

“Walaupun kami tetap bekerja di lapangan, aktivitas dari pembelinya menurun. Penyaluran KPR pasti menurun. Sekarang karena orang tidak mengutamakan untuk membeli rumah” kata Endang, Senin (30/3/2020). 

dampak corona di sektor properti

Terkait hal ini, pengembang terutama yang mengembangkan hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sudah meminta pemerintah dan perbankan untuk memberikan keringanan membayar cicilan dari pembeli ke perbankan. 

Direktur Utama PT Dafam Property Indonesia Billy Dahlan menyatakan sentimen virus Corona ini telah memperlambat ruang gerak transaksi jual beli properti dan mempengaruhi psikologis calon pembeli end user dan investor yang saat ini lebih memprioritaskan pada hal-hal yang lebih primer. 

“Dari sisi real estate ikut terdampak, diantaranya adalah adanya kendala penundaan pencairan KPR konsumen dari pihak bank rekanan,” ujar Billy.

Wabah corona di Indonesia berpotensi membuat banyak investor menarik diri dari Indonesia.

Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan Nasional (Apernas) Jaya Andre Bangsawan mengatakan banyak investor dalam negeri maupun asing yang mengundurkan diri dari sejumlah proyek properti di Indonesia akibat wabah Corona.

“Ada beberapa investor, terutama asing yang kabur, padahal sudah ada penandatanganan kerja sama. Ini kan kita yang susah, padahal proyeknya tinggal jalan,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (27/3/2020). 

Menurutnya, sikap para investor itu disebabkan karena mereka memilih untuk menyelamatkan dananya di tengah ketidakpastian ekonomi.

Wakil Ketua Umum DPP Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) Bidang Hubungan Luar Negeri Rusmin Lawin juga mengatakan bahwa perginya investor bukan dalam bentuk pembatalan realisasi investasi, melainkan hanya penundaan. 

Akibat pandemi Corona, REI juga menyatakan target pertumbuhan investasi asing atau Penanaman Modal Asing (PMA) di sektor properti akan terkoreksi dari yang semula diperkirakan tumbuh 20 persen. menjadi hanya sebesar 10 persen. 

“Target investasi atau PMA yang masuk ke Indonesia di bidang properti tahun ini diperkirakan turun separuh dari target sebelumnya yaitu 20 persen,” ujar Rusmin, Senin (30/3/2020).

(sumber : https://ekonomi.bisnis.com/)